Skip to content

Dengan Ramadhan & Idul Fitri Kita Membangun Peradaban

1 Oktober 2010

oleh “KATA-KATA HIKMAH” pada 09 September 2010 jam 11:31

Sahabat Hikmah…

Tidak ada perpisahan yang lebih mengharukan dari pada perpisahan

dengan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Di

dalamnya kita semua dihantarkan secara perlahan menuju titik FITRAH.

Titik penciptaan kita yang BERSIH dan SUCI. Allah Sang Pencipta tidak

pernah bermaksud buruk ketika pertama kali menciptakan manusia.

Karena itu tidak mungkin manusia mencapai kesempurnaan dirinya

tanpa kembali ke titik asal diciptakannya. Itulah titik di mana manusia

benar-benar menjadi manusia. Bukan manusia yang penuh lumuran

dosa dan kekejaman. Bukan manusia yang dipenuhi gelimang

kemaksiatan dan kedzaliman.

Allah swt  menurunkan Al Qur’an untuk menjadi pedoman agar

manusia tetap KOMITMEN dengan kemanusiaannya. Yaitu manusia

yang saling mencintai karena Allah, saling memperbaiki menuju

keimanan sejati, saling tolong menolong menuju peradaban yang

kokoh, saling membantu dalam kebaikan bukan saling membantu

dalam dosa dan kemungkaran.

Allah mengutus nabi-nabi sepanjang sejarah sebagai contoh terbaik

bagaimana menjalankan kewajiban kepadaNya. Tidak ada keselamatan

kecuali ikut jejak para Nabi. Dan tidak ada keberkahan kecuali bersungguh

-sungguh menjalankan ibadah seperti yang para Nabi ajarkan. Itulah tuntunan

FITRAH. Bahwa setiap manusia tidak akan bisa kembali ke titik FITRAHnya

tanpa mengikuti ajaran yang disampaikan para Nabi. Nabi Allah yang terakhir adalah

Nabi Muhammad shalallahu ‘alihi wa sallam. Dialah penutup nabi-nabi dan rasul-rasul

(khaatamun nabiyyiin). Dengan demikian semua tuntunan yang dibawa beliau pasti

seirama dengan FITRAH manusia. Maka dengan ikut Nabi Muhammad

secara utuh kita akan menjadi manusia yang kembali ke FITRAH. Karena itu setiap

memasuki bulan Ramadhan kita harus berbicara mengenai

bagaimana Nabi Muhammad saw  menjalani ibadahnya selama

Ramadhan. Sebab hanya dengan ikut jejaknya kita bisa mencapai

hakikat Ramadhan secara mendalam dan sempurna. Rasulullah saw.

pernah menegaskan bahwa berapa banyak orang yang berpuasa

Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali

hanya lapar dan haus. Artinya bahwa ia dengan Ramadhan tidak bisa

kembali ke FITRAHnya, padahal semua rangkaian ibadah Ramadhan

adalah tangga kembali menuju FITRAH. Mengapa?

mengikuti ajaran yang disampaikan para Nabi. Nabi Allah yang terakhir adalah

Nabi Muhammad shalallahu ‘alihi wa sallam. Dialah penutup nabi-nabi dan rasul-rasul

(khaatamun nabiyyiin). Dengan demikian semua tuntunan yang dibawa beliau pasti

seirama dengan FITRAH manusia. Maka dengan ikut Nabi Muhammad

secara utuh kita akan menjadi manusia yang kembali ke FITRAH. Karena itu setiap

memasuki bulan Ramadhan kita harus berbicara mengenai

bagaimana Nabi Muhammad saw  menjalani ibadahnya selama

Ramadhan. Sebab hanya dengan ikut jejaknya kita bisa mencapai

hakikat Ramadhan secara mendalam dan sempurna. Rasulullah saw.

pernah menegaskan bahwa berapa banyak orang yang berpuasa

Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali

hanya lapar dan haus. Artinya bahwa ia dengan Ramadhan tidak bisa

kembali ke FITRAHnya, padahal semua rangkaian ibadah Ramadhan

adalah tangga kembali menuju FITRAH. Mengapa?

Mengapa semua ibadah itu tidak mengantarkan mereka ke titik FITRAH?

Di manakah letak salahnya? Jawabanya tentu pada manusianya.

Sebab ternyata masih banyak orang yang masuk Ramadhan tidak

maksimal menjalankan ibadah-ibadah yang Allah dan rasulNya

ajarkan.

Banyak orang masuk Ramadhan sekedar dengan semangat

ritual saja, sementara hakikat keilmuan yang harus dijadikan bekal

selama Ramadhan diabaikan.

Banyak orang masuk Ramadhan semata menahan lapar dan haus di siang hari,

sementara di malam hari mereka kembali ke dosa-dosa.

Banyak orang masuk Ramadhan bukan untuk meningkatkan ibadah dan keimanan,

melainkan untuk meningkatkan omset-omset maksiat.

Pun banyak orang masuk Ramadhan dengan semangat di awal-awal saja,

sementara di akhir-akhir Ramadhan di mana Rasulullah beri’tikaf dan memburu malam  lailatul qadar, malah ia sibuk dengan permainan-permainan.

Bahkan yang sangat menyedihkan adalah bahwa banyak orang yang hanya

semangat beribadah di bulan Ramadhan saja, begitu Ramadhan

pergi, semua ibadah itu lenyap seketika dari permukaan. Masjid-masjid

yang tadinya ramai dengan shalat malam dan shalat

berjamaah, setelah Ramadhan, kembali kosong dan sepi.

Sahabat Hikmah…

Tidak ada ajaran bahwa kita wajib mentaati Allah dan rasulNya hanya

di bulan Ramadhan saja, setelah itu kita kembali berbuat dosa.

Ramadhan sebagai titik tolak kembali ke FITRAH sejati. Bahwa dari

Ramadhan kita bangun komitmen ketaatan seumur hidup seperti

ketaatan selama Ramadhan.

Dalam surah An Nahl 92, Allah berfirman:

وَلَا تَكُونُوا آَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikanbenangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”.


Ini sebuah pelajaran yang sangat mahal. Allah merekam kisah

seorang wanita yang hidupnya sia-sia. Dari pagi sampai sore ia

hanya memintal benang. Sore hari ketika pintalan itu selesai, ia ceraiberaikan

kembali. Perhatikan! Allah melarang agar akhlak wanita

tersebut tidak terulang kembali. Bahwa perbuatan sia-sia adalah

kerugian yang nyata. Karena itu Nabi saw. selalu mengingatkan agar

kita selalu ISTIQAMAH. Ketika salah seorang sahabatnya minta

nasihat yang bisa dijadikan pegangan seumur hidupnya, Nabi

menjawab: Qul aamantu billahi tsummastaqim (katakan aku berimankepada Allah dan beristiqamahlah).

Demikianlah, setiap tahun kita menjalani ibadah Ramadhan dengan

penuh semangat siang dan malam: siangnya kita berpuasa,

malamnya kita tegakkan shalat malam, tetapi benarkah nuansa

ketaatan itu akan terus bertahan seumur hidup kita? Atau ternyata itu

hanya untuk Ramadhan?

Berapa banyak orang Islam yang selama Ramadhan rajin ke masjid,

tetapi begitu Ramadhan habis, seakan tidak kenal masjid lagi.

Berapa banyak orang Islam yang selama Ramadhan rajin membaca Al Qur’an,

tetapi begitu Ramadhan selesai, Al Qur’an dilupakan begitu saja.

Mirip dengan kisah wanita yang Allah ceritakan di atas. Selama Ramadhan

ketaatan dirangkai,begitu Ramadhan habis, semua ketaatan yang indah itu dicerai beraikan kembali.

Sahabat Hikmah…

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala menjadikan kehidupan dunia ini

sebagai ujian dan cobaan bagi hamba-hambanya agar diketahui

siapakah dari hambaNya yang mentataiNya dan siapa yang

mendurhakai-Nya:

Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, manakah di antara kalian yangpaling baik amalnya, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”

(QS 67:2)

Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu menjadikan kehidupannya sebagai bekal menuju perjalanan panjang ke akherat kelak.

Rasulullah SAW 14 abad lebih yang lalu memberikan isyarat tentang

situasi yang akan menimpa sebuah bangsa yang tidak konsisten

menjalankan tata aturan agama. Mereka akan dilanda berbagai krisis

(sosial, politik, ekonomi, moral, dan budaya) yang berkepanjangan.

“Apabila akhir zaman semakin dekat maka banyak orang yangberpakaian jubah, dominasi perdagangan, harta kekayaan melimpah, para pemilik modal diagungkan, kemesuman merajalela, kanak-kanak dijadikan pemimpin, dominasi perempuan, kelaliman penguasa, manipulasi takaran dan timbangan, orang lebih suka memelihara anjing piaraannya daripada anaknya sendiri, tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang kecil, membiaknya anak-anak zina, sampai-sampai orang bisa menyetubuhi perempuan di tengah jalan, maka orang yang paling baik di zaman itu hanya bisa mengatakan: tolonglah kalian menyingkri dari jalan, mereka berpakaian kulit domba tetapi berhati serigala, orang paling ideal di zaman itu adalah para penjilat.” (HR, Thabrani)

Fenomena sosial yang dikhawatirkan Rasulullah SAW tersebut pada

kenyataannya telah bermunculan di tengah-tengah bangsa yang

sedang dirundung krisis multi dimensi ini dan kita dapat menyaksikannya.

Berbagai realitas buruk ini tidak akan dapat berubah kecuali kita

sendiri yang merubahnya. Allah tidak akan merubah kondisi

suatukaum kecuali mereka merubahnya.

13:11

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا

ا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَ

دُونِهِ مِن وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya

bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas

perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan

sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada

pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki

keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat

menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain

Dia.(QS : 13:11).

Perubahan yang kita inginkan bukanlah perubahan yang hanya

terjadi pada level individu saja. Tapi, kita menginginkan adanya

perubahan secara menyeluruh. Kita menginginkan dunia yang lebih

adil, lebih damai, lebih bersahabat, dan lebih memberikan rahmatnya

kepada manusia seluruhnya. Kita ingin membangun peradaban baru

sebagai pengganti peradaban yang ada saat ini.

Menurut Ibnu Qoyim Al Jauziyah, seorang ulama besar abad

pertengahan, untuk membangun peradaban, kita perlu melakukan

enam tahapan berikut ini:

1. Membangun VISI, CITA-CITA, ANGAN-ANGAN dan TUJUAN darikehidupannya.

VISI dan CITA-CITA merupakan target dari hidup manusia di dunia. VISI

merupakan angan-angan dan obsesi. VISI merupakan CITA-CITA dan

tujuan dari hidup. Ia akan menentukan arah dan garis perjuangan

hidupnya. Ia akan menjadi pembentuk pikiran dan perilaku. VISI akan

sangat mempengaruhi keputusan-keputusan dalam hidupnya. VISI

juga akan membentuk karakter seorang manusia. Oleh karena itu,

pembentukan VISI dan CITA-CITA merupakan hal yang sangat penting

bagi manusia. Tanpa VISI dan CITA-CITA, manusia tidak ada bedanya

dengan hewan. Tanpa VISI dan CITA-CITA, manusia cuma seonggok daging berjalan, tanpa arah dan tujuan.

Bagi manusia yang sudah mempunyai VISI, benar dan salah VISInya

akan menentukan akhir kehidupannya.

Sebagian manusia ada yang mempunyai VISI, CITA-CITA dan tujuan hidup

untuk memiliki uangsebanyak-banyaknya.

Sebagian lagi berCITA-CITA menjadi penguasa.

Sebagian lagi berCITA-CITA menjadi artis terkenal.

Ada juga orang yang menjadikan profesinya menjadi obsesi tertingginya.

Sementara, seorang muslim sejati memiliki VISI dan CITA-CITA untuk

berIBADAH kepada Allah semata.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku“ (QS: 51-65).

Beribadah kepada Allah artinya, menyerahkan seluruh urusan kita,

seratus persen, sepenuhnya kepada Allah swt.

“INNA SHOLAATII WA NUSUKII WA MAHYAAYAA WA MAMAATII LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN LAA SYARIIKALAH”

“Sesungguhnya sholatku, peribadatanku, hidupku dan matiku untuk Allah Tuhan sekalian alam tidak disekutukan kepda yang lain” (QS 6:162)

Setiap lontaran pikiran, curahan perasaan, dan tindakan yang muncul dari diri kitaharus ditujukan untuk ‘kepentingan’ Allah saja, untuk mendapat Ridlo-Nya, bukan untuk kepentingan yang lain.

Ayat diatas memberikan arahan pasti dan jelas kepada setiap muslim, bahwa mereka tidak diciptakan untuk tujuan lain selain beribadah.

Tidak ada tujuan untuk mengumpulkan materi.

Tidak ada tujuan untuk menjadi penguasa.

Tidak ada tujuan untuk menjadi penghibur.

Ini menjadi landasan iman dan keyakinan.

Adapun semua profesi dan pekerjaan kita, itu hanyalah SARANA untuk

beribadah kepada Allah. Materi, kekuasaan, dan lain-lainnya

hanyalah sarana yang mengantarkan dan mempermudah proses

ibadah kepada Allah.

Seorang dokter muslim akan menjadikan profesi dokternya sebagai ibadah.

Seorang insinyur, ilmu dan ketrampilannya dipersembahkan untuk beribadah kepada Allah.

Secara umum, ibadah dibagi menjadi ibadah ritual dan ibadah sosial.

Ibadah ritual direfleksikan oleh rukun Islam yang lima.

Ibadah sosial, secara prinsip adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah

saw,Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain“.

CITA-CITA seorang muslim sejati, dengan profesi dan karirnya,

adalah menjadi manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Sehingga, seluruh urusan hidupnya digunakan untuk memberi

sesuatu yang berguna bagi orang lain, masyarakatnya dan

bangsanya.

2. VISI/CITA-CITA/tujuan hidup akan memunculkan PERSEPSI dan POLA PIKIR

Tahapan kedua setelah pencanangan VISI dan CITA-CITA, adalah

munculnya persepsi dan pola pikir. VISI dan CITA-CITA akan

membangun persepsi, pola pikir, cara berpikir, dan seluruh yang

memenuhi pikiran dan metode berpikirnya.

Persepsi menentukan langkah apa yang akan ditempuh untuk meraih

VISI dan CITA-CITAnya.

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berulangkali menyuruh manusia untuk

memikirkan fenomena alam ini.

16:69

ثُمَّ آُلِي مِن آُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ

مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah

jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke

luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya

terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada

yangdemikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi

orangorang yang memikirkan. (QS 16:69).

Dalam ayat di atas Allah swt mengajak manusia untuk berpikir dan

memikirkan tanda-tanda kebesaranNya. Allah menyuruh manusia

membangun persepsinya tentang fenomena alam ini, termasuk

kehidupannya sebagai manusia.

Ketika VISI dan CITA-CITA hidupnya jauh dari Allah, maka bisa dipastikan persepsi dan pikirannya akan jauh dari memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah.

Sebaliknya, ketika VISI dan CITA-CITA hidupnya diarahkan untuk mengabdi kepada-Nya,

maka pikiran dan persepsinya akan berkisar pada berbagai urusan yang terkait dengan pengabdiannya kepada Allah swt.

Seorang manusia yang berCITA-CITA menjadi orang terkaya dan

bergelimangan dengan harta akan mempunyai pemikiran dan

persepsi bahwa menjadi orang terkaya adalah status yang paling

mulia, paling hebat. Sehingga, seluruh urusan hidupnya akan

digunakan untuk mewujudkan kemulian dan kehormatan yang

dipahaminya itu. Di benaknya tidak ada urusan dengan apakah ia

akan menempuh itu dengan cara yang halal atau haram. Sehingga,

korupsi dan manipulasi kekuasaan menjadi perilaku sehari-harinya.

Seorang muslim sejati yang mempunyai obsesi dan CITA-CITA untuk

mengabdi kepada Allah akan meyakini bahwa Islam adalah pedoman

hidup yang paling benar dan paling sesuai untuknya. Karena itu, ia

akan menjadikan Islam sebagai penuntun dan penentu keputusan

hidupnya. Islam yang akan menentukan benar salahnya sebuah

urusan. Islam yang akan memberi arahan baik buruknya sebuah

perkara.

3. PERSEPSI melahirkan TINDAKAN

Persepsi atau pikiran akan melahirkan tindakan. Tidak ada tindakan

atau perbuatan atau pekerjaan yang tidak diawali dengan pikiran.

Seorang yang berpikiran baik dan positif akan melahirkan tindakan

dan perbuatan positif. Seorang yang berpikiran buruk dan negatif

akan melahirkan perbuatan negatif.

Seseorang yang salah dalam menempatkan VISI hidupnya, dan salah

dalam memikirkan kehidupannya, akan melakukan tindakan dan

pekerjaan yang salah pula.

Seseorang yang memiliki VISI untuk menjadi orang terkaya, pikirannya

akan terbentuk dan menganggap kekayaan adalah segala-galanya,

akan memunculkan perilaku dan tindakan yang senada dengan pikiran

dan keinginannya itu. Tidak ada pertimbangan baik dan buruk, benar

dan salah. Segala cara dan metode ditempuh untuk mewujudkan

keinginannya itu.

Padahal, Allah swt telah menggariskan bahwa kerja dan perbuatan kita

hanyalah diperuntukkan bagi Allah saja. Ini menjadi koridor penting untuk

memagari seluruh kerja dan perbuatan kita.

9:105

وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ

وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا آُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan

kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan

yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian

apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:105).

Kemaksiatan dan kemungkaran yang sangat marak saat ini tidak

dapat dipandang hanya disebabkan oleh perbuatan itu semata.

Sesungguhnya, seluruh perbuatan buruk itu lahir dari PIKIRAN BURUK.

Pikiran buruk itu lahir dari VISI dan OBSESI  BURUK pula.

Seorang manusia yang melakukan perzinahan itu muncul dari pikiran bahwa

zina itu bukan merupakan perbuatan dosa.

Seorang pemabuk melakukan perbuatan mabuk-mabukan itu dilandasi oleh

pikiran bahwa mabuk itu bukan merupakan sebuah keburukan. Kendatipun

mereka menyadari bahwa itu adalah perbuatan dosa, tapi karena

tujuan hidup dan arah hidupnya tidak jelas, maka mereka

menganggap hal itu tidak menjadi masalah.

Jadi, PIKIRAN  dan PERSEPSI seorang manusia terhadap sesuatu sangat

mempengaruhi tindakan dan perilaku yang muncul.

4. TINDAKAN/PERBUATAN yang dilakukan BERULANG-ULANG akan memunculkan KEBIASAAN.

Sebuah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang akan

menjadi kebiasaan. Jika itu perbuatan buruk, akan melahirkan

kebiasaan buruk. Jika perbuatan baik, pasti akan lahir kebiasaan baik

pula.

QS 6:136

فَقَالُواْ هَذَا لِلّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا وَجَعَلُواْ لِلّهِ مِمِّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأَنْعَامِ نَصِيبًا

لِشُرَآَآئِنَا فَمَا آَانَ لِشُرَآَآئِهِمْ فَلاَ يَصِلُ إِلَى اللّهِ وَمَا آَانَ لِلّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى

شُرَآَآئِهِمْ سَاء مَا يَحْكُمُونَ

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhalaberhala kami.” Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhalaberhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhalaberhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.” (QS 6:136).

Sesungguhnya hidup ini terdiri atas kumpulan kebiasan-kebiasaan.

Dalam firman Allah di atas, ada sekelompok orang yang

kebiasaannya membuat sesaji yang dipersembahkan untuk berhala-berhala

mereka. Karena tujuan hidup yang salah, pikirannya

menyimpang, muncul perbuatan yang salah pula, yang akhirnya

menjadi kebiasaan yang salah dan buruk.

Kita dibentuk oleh kebiasan-kebiasaan kita.

Seorang yang menganggap korupsi itu bukan suatu kejahatan, maka dia akan

melakukan perbuatan itu tanpa rasa bersalah. Perilaku korupsi yang

dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Akhirnya korupsi

menjadi sebuah tindakan yang SAH dan BENAR bagi dia.

Jika suatu kemaksiatan dan kemungkaran sudah menjadi kebiasaan,

maka sangat sulit untuk merubahnya.

Ketika seorang beriman mempunyai perilaku baik, taat beribadah,

jujur, amanah dan selalu berlapang dada dengan orang lain, maka

ketika ia mampu MENJAGA perilaku-perilaku baik itu secara KONSISTEN,

perilaku-perilaku itu akan menjadi KEBIASAN bagi dirinya.

Seorang mukmin yang rajin sholat tahajud, akan membangun kebiasaan

sholattahajud pada dirinya.

Seorang mukmin yang rajin tilawah Al-Qur’an dan berusaha membangun

kebiasaan tersebut pada dirinya, akan menjadikan tilawah itu menjadi

kerjaan hariannya.

Oleh karena itu, ketahuilah bahwa kita tidak mungkin membangun

kebiasaan-kebiasan baik itu tanpa kita memulainya dengan

TINDAKAN dan PERILAKU baik. Tindakan dan perilaku baik baru

bisa muncul dari PIKIRAN yang baik pula. Kebiasaan ini harus

dibangun sejak dini, sejak anak-anak. Jika tidak, merupakan sebuah pekerjaan

BERAT dan MELELAHKAN  untuk membangun kebiasaan pada orang dewasa.

5. KEBIASAAN yang dianut masyarakat menjadi BUDAYA dan

TARADISI

Kebiasaan yang dianut oleh banyak orang dan berlangsung dalam

waktu lama akan menjadi budaya dan tradisi.

QS 2:170

وْ آَانَ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَ

آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah

diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami

hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan)

nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga),

walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu

apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS 2:170).

Di dalam ayat di atas disebutkan perilaku tradisi dan budaya orang-orang

yang tidak beriman. Kebiasaan dan budaya mereka sangat

dipengaruhi oleh orang-orang tua dan nenek moyang mereka tanpa

memikirkan apakah tradisi tersebut baik atau buruk.

Kebiasaan yang muncul dalam suatu masyarakat akan sangat

mempengaruhi kepribadian masyarakat tersebut.

Sebuah masyarakat yang terbiasa melakukan suap menyuap dan korupsi akan

menumbuhkan budaya dan tradisi korupsi, budaya dan tradisi suap

menyuap, budaya dan tradisi sogok menyogok. Jika ada orang-orang

yang tidak mengikuti budaya ini akan disingkirkan dan dimusuhi. Jika

ada orang-orang yang berusaha mencegah kelakuan buruk mereka,

akan dijauhi dan dipojokkan.

Bangsa ini sesungguhnya memiliki tradisi kerja keras dan pejuang.

Sejarah membuktikan kemampuan bangsa ini keluar dan lepas dari

penjajahan karena mental pejuang yang dimiliki rakyatnya. Namun,

harus diakui, mental dan tradisi perjuangan ini semakin lama

semakin kendur.

Lingkungan materialis dan hedonis yang bertebaran di

sekeliling kita, pola hidup para pemimpin negeri ini, sajian acara

teleVISI yang sangat permisif, semua itu mempengaruhi VISI dan CITA-CITA anak bangsa ini.

CITA-CITA bangsa untuk menjadi bangsa besar

yang berwibawa tidak dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari

para petingginya. Akibatnya, hilanglah daya juang dan daya

kreatifitas bangsa ini untuk membangun bangsanya.

Sekali lagi, budaya ini muncul dari kebiasaan. Kebiasaan muncul dariperbuatan dan tindakan. Tindakan muncul dari pikiran. Pikiran muncul dari CITA-CITA dan angan-angan.

Karena itu, budaya buruk yang sudah terlanjur memasyarakat dan dianut

oleh sejumlah besar manusia di masyarakat tersebut, tidak dapat diperbaiki dengan mudah,tanpa mengubah mindset dan angan-angan masyarakat tersebut.


6. BUDAYA yang berlaku dalam kurun waktu panjang menjadi

PERADABAN.

Budaya yang dianut oleh suatu masyarakat, dan kemudian

berkembang semakin luas dan berlangsung dalam jangka waktu

panjang, dapat tumbuh menjadi sebuah peradaban.

Peradaban barat sekarang ini merupakan buah transformasi budaya jangka panjang,

semenjak revolusi industri, pengembangan pendidikan yang masif

dan berkualitas dan tumbuhnya tradisi ilmiah yang melahirkan

penemuan-penemuan penting bagi kehidupan manusia.

Namunsayangnya peradaban ini kosong dari nilai-nilai spiritual dan

ketuhanan. Ia hanya berkutat pada urusan materi. Segala sesuatu

diukur dengan uang dan materi. Karena kemajuan barat dimulai dari meniggalkan BIBEL.

Peradaban Islam dibangun dari landasan VISI dan CITA-CITA Rasulullah saw, atas arahan wahyu Allah swt, yang kemudian tumbuh bersama perubahan pola pikir, yang kemudian mewujud dalam perubahanperilaku, kebiasaan dan tradisi masyarakat arab ketika itu. Peradaban Islam mampu bertahan selama 1400 tahun sebelum diambil alih oleh barat.

Karena itu, jika kita ingin membangun peradaban yang baru untuk menggantikan peradaban barat yang serba materialis dan hedonis ini maka kita harus mulai dari merubah VISI dan CITA-CITA hidup kita, mulai dari skala individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

38:26

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى

لَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا فَيُضِ

نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah

(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di

antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti

hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan

mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari

perhitungan. (QS: 38:26).

Demikianlah, kita tidak akan mampu membangun peradaban baru

tanpa melakukan perubahan dalam diri kita.

Kita harus merubah VISI dan angan-angan kita dengan kuat.

Kita jadikan Allah swt sebagai satu-satunya tujuan hidup kita.

Hidup untuk Allah.

Bekerja untuk Allah.

Berkarir untuk Allah.

Berumah tangga untuk Allah.

Jika kita mampu merubah angan-angan dan VISI hidup kita itu,

secara perlahan kita akan mampu merubah persepsi dan pola pikir kita

yang tidak Islami menjadi Islami.

Kita jadikan Islam sebagai pedoman bagi seluruh urusan hidup kita.

Kita jadikan Islam sebagai landasan berpikir seluruh keputusan kita.

Dari situ akan terbentuk perilaku dan perbuatan Islami.

Akhlak Islami akan lahir secara otomatis.

Perilaku yang dibangun dan dijaga konsistensinya akan menumbuhkan kebiasaan Islami.

Kebiasaan Islami yang dapat kita tularkan dan dakwahkan kepada masyarakat kita,

sehingga mereka mempunyaikebiasaan Islami juga, akan memunculkan budaya Islami.

Budaya Islami yang dianut oleh suatu masyarakat bahkan suatu bangsa dalam kurun

waktu panjang akan melahirkan sebuah peradaban.

Itulah peradaban Islami yang kita CITA-CITAkan.

Sebuah peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Sebuah peradaban yang jauh dari nilai-nilai materialis, hedonis, koruptif, tidak

bermoral, manipulatif, penuh dengan kedustaan dan kebiadaban.

Kita menginginkan peradaban yang adil, bermartabat, amanah, jujur,

sederhana, dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan.

Itulah peradaban yang diangankan seluruh umat manusia, andaikan

mereka tahu betapa indahnya peradaban Islam ini.

Melalui ramadhan dan idul fitri ini saatnya kita kembali kepada FITRAH kita.

Kita kembali melihat dan menyusun angan-angan dan CITA-CIT hidup kita,

obsesi kita, menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih diridhoi Allah swt

di masa yang akan datang.

(Oleh : Oleh Ust Dr. Prihandoko, MIT)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

"KATA-KATA HIKMAH" Ogy Febri Adlha (OFA)

"Allah menganugerahkan HIKMAH kepada SIAPA yang DIKEHENDAKI-Nya. Dan barang siapa yang DIANUGERAHI HIKMAH, ia benar-benar telah DIANUGERAHI KARUNIA yang BANYAK." (QS Al-Baqarah : 269)

Didi Sederhana

Belajar hidup SEDERHANA, karena menjadi sederhana perlu banyak belajar

%d blogger menyukai ini: